Mosquito Memories

Nyamuk-nyamuk ini nakal. Terbang kesana-kemari, gigit sana gigit sini. Dan aku jadi ingat lagi waktu-waktu duduk bersama, ngobrol nggak tentu arah berdua. Ngga tentu arahnya, tapi entah kenapa selalu membuat tertawa. Mungkin karena kita waktu itu sama-sama bahagia?
Ah, nyamuk nakalnya datang lagi. Nguing-nguing bunyinya. Aku biarkan saja sampai dia gendut kekenyangan. Biar habis dihisap kenangan itu. Dan lalu dia terbang pelan kekenyangan. Aku tepuk sekali. Dia menghindar. Aku kejar. Aku tepuk lagi, lebih keras. Plok. Kena. Dan si nyamuk itu mati. Akhirnya……mati

[written in 2010, just found it then post it]

Nothing

I think nothing. I do nothing. I stayed in flawless quiteness. My mind soaring up high above wildly. But i think nothing. And still do nothing. There’s a plenty of ideas and thought flies in my head. They buzzing like they are such a predator ready to eat every happy memory in me. Drained me until I realized, I’ve got everything until you let that buzz letting you down.
I think nothing……..
I do nothing……………
But still, i (tried to) kept everything inside……

Positivity

this is for you…yes you 🙂

Terlalu banyak sakit hati. Terlalu banyak yang kamu tahan. Setiap yang kamu terima dan terasa tidak tertahankan selalu kamu abaikan. Kamu buang jauh-jauh. Tapi sebenarnya mereka nggak kemana-mana kan?tetap ada disitu. Menunggu untuk meledak di saat kamu jengah dan lengah. Menumpuk dan terus bertambah menumpuk. Semua yang kamu abaikan. Tidak kamu bahas lagi. Yang kamu ingin lupakan. Kamu tumpuk semua disitu. Tapi sayangku, semua ada batasnya. Bahkan ruang kecil jauh didalam hatimu itu juga bisa penuh. Tumpukan itu butuh dikeluarkan. Literally dikeluarkan. Dibuang. Jangan disimpan, karena kamu mungkin tidak akan pernah sadar tumpukan itu cuma akan memakanmu dari dalam

Sepi. Sepilah yang selalu berhasil membuatmu lemah. Membuatmu ingat akan yang tidak perlu lagi kamu ingat. Memikirkan semua yang tidak perlu lagi kamu pikirkan. Kumpulkan saja. Kumpulkan semua. Lalu simpan di kotak besar kenanganmu. Kunci kotak itu. Sembunyikan kuncinya. Atau berpura-pura saja kamu lupa dimana kuncinya. Kamu Cuma boleh membuka kotak itu untuk satu hal, belajar dari kesalahan. Bukan untuk tenggelam didalamnya. Kalau kamu sendiri nggak yakin tidak akan tenggelam didalamnya…hmm, lebih baik jangan dibuka sama sekali. Tunggulah sampai kamu kuat. Dan jangan pernah sendiri, karena sendiri adalah jodohnya si sepi. Masih banyak yang perduli dan sayang sama kamu. Ada orang-orang yang kamu sadar atau tidak akan selalu siap mem-back upmu saat butuh. Ada mereka. Ada aku. Dan untuk itu kamu pasti sudah mengerti, kamu tidak pernah sendiri.

Have you ever?

Sometimes it’s wrong to walk away, though you think it’s over
Knowing there’s so much more to say
Suddenly the moment’s gone.
And all your dreams are upside down
And you just wanna change the way the world goes round

Tell me, have you ever loved and lost somebody?
Wished there was a chance to say I’m sorry
Can’t you see, that’s the way I feel about you and me, baby
Have you ever felt your heart was breaking, lookin down the road you should be taking
I should know, cos I loved and lost the day I let you go

Can’t help but think that this is wrong, we should be together
Back in your arms where I belong
Now I’ve finally realised it was forever that I’ve found
I’d give it all to change the way the world goes round

Tell me, have you ever loved and lost somebody
Wished there was a chance to say I’m sorry
Can’t you see, that’s the way I feel about you and me, Baby
Have you ever felt your heart was breaking
Lookin down the road you should be taking
I should know, cos I loved and lost the day I let you go

I really wanna hear you say that you know just how it feels
To have it all and let it slip away, can’t you see
Even though the moment’s gone, I’m still holding on somehow
Wishing I could change the way the world goes round

Tell me, have you ever loved and lost somebody
Wished there was a chance to say I’m sorry (I’m sorry)
Can’t you see, oh that’s the way I feel about you and me, Baby
Have you ever felt your heart was breaking
Lookin down the road you should be taking
I should know, (I should know) cos I loved and lost the day I let
Yes I loved and lost the day I let
Yes I loved and lost the day I let you go

How about you, have you ever?

Static no more

There is nothing static in this life. Not even something you believe meant to be forever. Soon you’ll know that forever is never. That’s why i always feel a bit anxious when there was too much happiness in my life at one time. For me, sometimes being deeply happy is just a beginning of getting another next sadness. Biarpun memang itulah intinya hidup. Bahagia, menangis sedih, bahagia lagi, menangis lagi, dan akhirnya bahagia lagi. It’s just a phase. But just when i started feeling so happy, i always picture in mind what kind of sadness and trouble coming ahead. Dan mungkin karena dipikirkan, seringnya ini malah kejadian.

Oh yes it’s true, there is nothing static in this life. Everything always changing. And if you dont keep changing too, you’ll never grow up. Tough changing could be really hurt you a lot of pain. Over and over again. Tough changing means you’ll lost your loved one so much. Or perhaps the idea of love that you loved that much. Something that you believe for so many years. That in so many dynamic things in this life, that one you believe will always remain static. Forever. But again, forever is never. Kamu bisa mati-matian membelanya. Sekeras hati membantah semua nada miring dari sekitarmu tentang dia. Menerima semua plus-minusnya dengan lapang dada, dan bisa maklum untuk semua kekuranganmu. Seperti kamu (yakin) dia akan selalu melakukan hal yang sama untukmu. Nggak sekarang. Nggak besok. Entah kapan. Mungkin besoknya besok. And you keep waiting the right moment. Dan kamu terus berusaha sebaik yang kamu bisa untuk memaklumi semua yang dia lakukan dan sebenarnya nggak berkenan di hatimu. Selalu ada alasan untuk sesuatu yang kamu bela mati-matian. Whatever they said, you always have the best answer to convinced them that you are right about what you believe about him/her and that their judgement is wrong. Dan waktu kamu nggak menemukan jawaban sama sekali untuk kecurigaan sekitarmu, kamu…sekali lagi dengan tulusnya (ato dengan begonya sih?) memaklumi. Padahal dalam hati kamu ngeh kan?padahal sebenarnya ada bagian di dalam sana yang setuju dengan mereka kan?tapi tetap kamu kekeuh membela. Because you believe that one will always remain static.

Unfortenately dear, there is nothing static in this life. Dan waktu perubahan itu terjadi, tenang saja. Iya mungkin sakit sedikit. Tapi percayalah, perubahan itu baik. Kamu jadi bisa melihat mana yang benar mana yang salah. Siapa yang tulus siapa yang palsu. Semua topeng kalau sudah waktunya pasti akan terbuka. Everything will be crystal clear. Dan walaupun nggak sebagus topeng-topeng itu, kamu akan jauh lebih bahagia berteman dengan wajah asli mereka.

Pakde…missing you so dearest bestfriend

Sepertinya masih baru kemarin saya bertemu dia. Perawakannya nggak terlalu tinggi, kulitnya agak gelap, dan yang paling saya inget….pipinya yang chubby sekali dan sorot matanya yang kadang kok kek berbinar-binar ala anak TK (hehehe sepertinya belum sempat ngomong kek gini kek kamu ya Pakde). Ronny Iswanto. Dari awal sudah keliatan emang ya klo nih anak ramah dan helpfull. Khas helpdesk IT yang baek mungkin ya hehehe. Saya yang memulai memanggil dia Pakde. Pakde ini tergabung dalam komplotan yang sengaja dikirim untuk back up dan preparing migrasi sistem di kantor lama. Dari empat orang di komplotan itu, entah kenapa ada dua orang yang paling noticeable. Tepatnya paling klik sama saya. yaa si Pakde dan ada lagi satu, si Master. Dua julukan yang entah gimana diberikan ke masing-masing mereka, dan akhirnya berkembang jadi panggilan sehari-hari. Mereka sendiri juga dengan cepat mengembangkan panggilan balasan buat saya. Pakde balas memanggil saya Bude, dan Master balas memanggil saya Suhu. Dari komplotan IT empat orang itu, dua orang terakhir jadinya malah ngebentuk kelompok sendiri dengan gerombolan saya yang berisi Si Panda dan Si Murid. Dua nama terakhir juga nama panggilan yang dengan apesnya jadi nama sehari-hari. Naah, empat orang ini (si murid, master, pakde dan saya, si bude alias suhu) yang paling getol imel-imelan setiap harinya. Dalam perkembangannya (ciyeeh bahasanyaa) kami berkembang jadi kumpulan Gendengers. Namanya kek gitu soalnya yang dibahas dan yang membahas nggak jauh-jauh dari hal dan hil berbau gendeng hekekekkeke. Asli dah, kami ini supeerrr kreatif soro. Adaaa aja yang dibahas. Gilanya pernah dalam satu hari sebelum pulang kami semua iseng menghitung jumlah imel yang masuk. Ada ratusan lebih!dan itu dalam satu hari kerja saja lo sodara-sodara!!!saya lupa jumlah tepatnya. Tapi serangan imel itu, yang walopun kadang bisa ngalahin serangan spam (ato emg termasuk spam ya imel kelian ini?hahaha) selalu membuat saya lepas tertawa…ehm…ngakak gila tepatnya. Mau ratusan mau puluhan, imel-imel dari mereka itu selalu jadi semacam obat bius. Nagih. Bisa ngilangin stress setidaknya sementara saja ditengah gencetan deadline kerja yang kadang kek memakan semua urat bahagia di kepala. Bertemu dengan mereka bertiga, rasanya sungguh berkah. Jarang-jarang lo ya kamu bisa aja gitu suatu hari ketemu beberapa orang baru dan tiba-tiba “klik”…nyambung aja kek tutup botol ketemu botolnya. Sahabat kebanyakan muncul karena proses seberapa lama mereka berteman. Tapi yang ini beda. Mereka adalah salah satu dari beberapa sahabat langka saya. Karena saya sudah ngerasa mereka sahabat tanpa butuh waktu yang lama. Mungkin karena kami sangat sering curhat berjamaah. Semacam buka forum via email dan ngeluarin unek-unek stress di kepala. Yang ga lama pasti diikutin anggota yang lain dan pastinyaa ditimpalin ala gendengers oleh anggota lainnya. Jadi dah curhat massal. Mungkin karena sering berbagi kami jadi lebih gampang menemukan kecocokan satu sama lain. Seperti ada ikatan kasat mata gitu hihihi lebay ah. But it is true, being with you all guys really one of time of my life. Itulah kekuatan sahabat ya, mo hari berat gila seperti apa…feels that you have a bunch of craziest supportive bestfriend will always managed to get you back on top.

Dan kemudian takdir kami mulai berjalan. Diawali dengan Pakde yang walaupun nggak pindah induk tapi progressnya mulai terlihat. Pakde orang pertama di komplotan Gendengers yang diangkat jadi karyawan tetap di perusahaan lama saya (waktu itu kami berempat masih berstatus karyawan outsource klo nggak salah). Nggak lama, saya yang meninggalkan mereka, pindah induk ganti perusahaan. Hari terakhir perpisahan dengan kelompok gila ini berat sekali. Rasanya ada palu godam raksasa menghantam hati. “BUUMMM”. Ngilu-ngilu sedih rasanya. Biarpun masih bisa connect each other through external mail, tapi tetep aja rasanya sediiih sekali harus terpisah dari mereka. Dan serangan email gila-gilaan itu berkurang drastis. Jujur, rasanya sangat kehilangan sekali di awal-awalnya. Seperti jadi bego, karena kadang nggak sadar saya bolak-balik ngecek imel kantor lama (yang mana udah keblok pastinya) karena masih nungguin email dari mereka. Lama-lama saya mulai biasa dan beradaptasi dengan kantor baru, menemukan gerombolan gila lainnya. Tapi tetep aja, komplotan gendengers membekas sekali di dalam.

Sampai suatu hari di tengah kesibukan saya jadi karyawan baru, si murid, salah satu anggota Gendengers menelepon saya. Saya terpekik saking senang dan kangennya. Belum sempat dia ngomong saya sudah ngoceh panjang lebar. Dan tiba-tiba dia memotong cepat omongan saya sambil terisak “Suhu sudah dengar?Pakde nggak ada suhu. Pakde nggak ada”. Saya diam. Bingung. Ragu, saya tanyakan maksudnya apa. Dengan bloonnya bertanya emang si Pakde kemana. Si murid menceritakan dengan cepat sambil menangis kronologis kejadian hari naas itu. Hari dimana salah satu sahabat terbaik saya serasa direbut paksa dari saya oleh tangan takdir. Saya masih bingung. Semua penjelasan dan isak tangis Murid rasanya muter-muter doang di kepala. Sampe kemudian nggak sadar mata saya basah. Otak saya pelan-pelan bekerja. Dan inti berita itu mulai saya mengerti. Murid terus saja bicara di telepon. Tapi telinga saya sudah putus koneksi dengan kepala. Rasanya lumpuh sesaat dan kamu nggak bisa ngapain-ngapain kecuali nangis. Sejak Bapak nggak ada, saya jadi lebih sensitif setiap menerima berita duka. Terlebih lagi ini sahabat saya sendiri. Seperti kembali lagi ke hari itu dimana saya kehilangan Bapak. Padahal baru beberapa minggu lalu saya chat dengan pakde. Haha-hihi ngakak gila dengan dia. Bahkan Master baruuu saja kemarinnya ngobrol dengan Pakde via telp ato chat klo nggak salah. Saat kejadian itu Pakde sudah dipindahkan ke Makassar, kejadian itu sendiri terjadi di Makassar. Bayangkan, bagaimana kaget dan tidak percayanya kami. Mendadak. Tiba-tiba dia pergi meninggalkan lubang di hati. Yang lebih sedih lagi, waktu itu Pakde baru saja menikah. Newlywed. Istri barunya juga diboyong ke Makasar. Dan saat itu sedang hamil. Pakde yang akan pergi kerja pamit seperti biasa. Siapa yang ngira Pakde pamit pergi nggak kembali. Duh, bahkan nulis ini pun nggak sadar mata saya basah *mewek*

Dan hari ini lagi, lubang besar itu seperti muncul samar di hati. Istri pakde melahirkan putri mereka dengan selamat. Senang sekali rasanya setidaknya pakde sempat punya keturunan tanda cinta dengan istrinya. Tapi membayangkan si kecil itu bakal tumbuh tanpa sempat melihat gimana lucu, baik dan konyolnya Bapaknya…..saya nggak tahan. Saya yang udah segede ini saja waktu kehilangan Bapak seperti berhenti hidup rasanya. Seperti zombi kadang. Hidup tapi mati. Membayangkan anaknya Pakde bakal tumbuh tanpa bisa melihat dan merasakah cinta besar seorang bapak…….bisa bayangkan gimana sedihnya?saya nggak bisa. Saya nggak tahan. Bahkan saya sendiri nggak tau kuat nggak saya klo di posisi istrinya pakde *mewek lagi*

Ingin sekali rasanya menjenguk si kecil Pakde yunior. Rasanya saya ingin ikut menjaga. Karena Pakde salah satu sahabat terbaik saya. Nggak tega dan nggak pengen Pakde yunior kekurangan kasih sayang. Walaupun nggak bisa menggantikan tapi setidaknya saya dan anggota gendengers lain bisa membantu istri pakde menambal lubang kasih sayang untuk si kecil. Tapi saya terlalu jauh dari mereka. Beda pulau. Belum bisa cuti untuk mengunjungi mereka. Semoga dimudahkan jalan untuk kami membantu istri Pakde untuk menjaga si kecil. Saya yakin Pakde juga selalu menjaga anak kesayangannya yang belum sempat dia lihat.

Terimakasih

Untuk orangtua paling istimewa yang sudah engkau kirimkan…
Untuk Bapak yang sangat menginspirasi, yang selalu ada di hati, tertancap kuat beserta dengan semua semangat dan ajaran tentang hidup yang akan selalu aku ingat…
Untuk Ibu yang teramat sangat istimewa, yang tidak pernah ragu berkorban, yang rasa sayangnya pada kami tidak akan pernah bisa diukur….
Untuk kesempatan mendapatkan keluarga yang langka dan sangat berharga…
Untuk kesehatan yang kadang aku abaikan dan kadang lupa aku jaga…
Untuk pembelajaran berharga tentang bagaimana merelakan dan mengikhlaskan seseorang yang sangat kita sayangi pergi selamanya…
Untuk semua kesedihan, kehilangan, air mata….semua pil pahit kehidupan yang walaupun kadang ditelan paksa, tapi aku tahu semuanya untuk sesuatu yang lebih baik lagi
Untuk semua peringatan dan teguran saat aku mulai lupa berpijak pada bumi, mulai lupa tujuan awal saat memulai semua ini…
Untuk semua semangat yang entah bagaimana caranya selalu muncul saat tiba-tiba aku sangat butuh…
Untuk kekuatan, kesabaran, dan ketabahan yang engkau selipkan saat hati bimbang kacau putus asa…
Untuk senyuman, dan semua bentuk kekuatan yang engkau tunjukkan tepat disaat aku sudah tidak percaya lagi pada semua itu
Untuk cahaya samar yang engkau sinarkan saat duniaku terasa lebih gelap dari hitam yang pekat…
….
….
Untuk semua berkah tak kasat mata, yang tidak aku sadari, yang tidak pernah aku syukuri, yang bahkan kadang aku lupakan …1000 terimakasih mungkin tidak akan pernah cukup.
Terimakasih untuk semuanya ya Allah. Terimakasih sudah menyayangi hambamu yang kadang lupa dan sering khilaf ini.
Terimakasih…

Kenapa Jarang Ngeblog?

Kemarau. Mungkin kalo aliran posting saya diibaratkan hujan, blog saya lagi kemarau panjang. Terakhir posting sekitar sebulan lalu. Lumayan kering kerontang kalo diliat-liat inih blog, parah dah *Nah lo, salah siapa dong?*

Terus kenapa dong jarang ngeblog?Seperti kata orang, selalu ada seribu satu alesan buat ngeles dan susah banget nemuin satuu aja alesan untuk kembali ke jalan yang benar. Terlalu banyak mah alesan kenapa saya nggak mulai ngeblog lagi. Padahal ide untuk ditulis itu beterbangan liar di kepala. Tapi menangkap satuu aja dari banyak ide itu untuk kemudian dieksekusi diatas kertas *err..di wordpress tepatnya* rasanya syusaaah bener. Malas?iya mungkin aja. Soalnya ide itu kerap bersliweran di saat ga tepat. Waktu lagi nyetir, waktu lagi cuci piring, waktu lagi kondangan daan sebagainya sebagainya. Dulu, gampang banget rasanya menceritakan kembali ulang sesuatu hal dalam urutan yang bagus. Sekarang?beh, entah nyawa saya yang kadang belum jangkep atau gimana…tapi kalau dipaksakan menulis kembali ide yang barusan sliweran itu pastinya jadinya malah nggak jelas urutannya. Dan ujung-ujungnya menumpuklah si draft posting yang nggak selesai bin terbengkalai. Dan saya nggak bisa asal menulis di blog cuma demi agar keliatan eksis. Tiap orang pasti berbeda, tapi buat saya menulis itu seperti menumpahkan kekusutan dikepala untuk diurai rapi. Makanya begitu saya dapet moment menulis yang pas banget, setelahnya pasti berasa legaa :D.

Alesan berikutnya adalah masalah topik. Nggak tau ya, kok sekarang otak ini berasa cupet gitu. Rasanya otak saya yang ngurusin bagian hepi-hepi-gila-kreatif lagi cuti liburan kemanaa gitu. Apesnya bagian otak itu sepertinya keterusan cuti, nggak balik-balik lagi. Some people said, your life will changed when you’d been through so many dark phase. And when your life changed…you’ll gonna changed. I personally, ngerasa semua dark phase yang pernah kejadian di hidup saya bener-bener meant to be happened on me. Jalan saya emang dibuat gitu. Tau nggak feeling yang seperti itu?seperti waktu kamu nggak tahan dan akhirnya menangis karena sedih…kamu sedih sekali saat itu, tapi dalam hati kamu tau ini yang akan ngebentuk dirimu jadi lebih kuat. Jadi lebih baik. Since i lost my dearest daddy, i often felt i lost myself nowhere. Rasanya seperti kehilangan arah sesaat. Gelap. Dan sendirian. Kalau diingat lagi, rasanya sejak itu perubahan hidup dimulai. Nggak signifikan, tapi pelan-pelan saya berubah. Seperti proses pembuatan tembikar, tanah lempungnya harus dibanting-banting dulu, dipenyok-penyokin demi ngedapet bentuk yang perfect. Kalaupun udah lumayan bentuknya masih harus dibakar lagi. Proses hidup saya, rasanya kurang lebih seperti itu. Apa?saya lempung?hahaha masa ada siih ciin lempung ngeblog gini ;D

Alesan lain saya enggan ngeblog adalah saya (entah kenapa) nggak bisa lagi menulis bebas seperti dulu. Terlalu banyak pertimbangan rasanya. Nggak mau menyakiti si ini, nggak mau mendiskreditkan si itu. Kalo dulu mah, mau nulis ya nulis aja. Nggak pernah kepikiran macem-macem karena memang nggak nyampe situ mikirnya hahaha. Masih muda belia nan polos sih. Eh tapi saya tetep rajin nulis lo. Cuma nggak dipublish aja.Ya karena alesan terakhir itu.
Daan, sebagai orang yang selalu (berusaha) berpikir positif saya mau aktif ngeblog lagi ah. Pokoknya kalo bisa tiap hari satu posting dah minimal. Nyahahaha, niatnya mulia gini ey. Mari kita liat realisasinya ntar. Ayoo rajin ngeblog! 😀

Bete ya mbak?

Ramadan tinggal 3 hari lagi. Masjid sepi sesepi-sepinya. Mall dan pasar ramenya ngalah-ngalahin isi masjid di hari pertama Ramadan. Saya bisa bilang gini soalnya barusan saya juga ikutan nge-mall hehehe. Bergabung dengan sekian banyak warga kota yang rame-rame metik pohon uang nya untuk membeli Lebaran sesuai standar mereka. Saya?sebelas dua belas aja mah sama mereka. Sama-sama nyeret pohon uang thr untuk digunduli di mall terdekat. Mulai dari toples, sembako, baju apapun yang dianggap bisa ngeramein lebaran tercinta..bungkus semua dah.
Ditengah-tengah mall yang udah rame naudzubillah ituh, saya dan ibu ndusel-ndusel diantara pembeli lainnya. Nah waktu ndusel ituh, ibu ngeliat satu baju yang lucu di dalam boks di sebelah kerumunan orang yg sepertinya lagi kalap milih sepatu anak. Sepatu itu lagi diskonan gede gitu ternyata. Dan untungnyaaa, baju inceran ibu juga lagi diskon cihuy. Secara naluriah kita langsung bergerak cepat mendekat. Berdiri di dekat boks itu si mbak penjaga yang lagi sibuk melipat-rapikan baju-baju di dalam boks. Waktu saya dan ibu lagi konsen milih-milih baju, mbak itu ngomel
”Seenaknya aja ngeberantakin barang kek gitu”
Saya dan ibu terhenyak diam. Lah, masa ni orang protes ya kita milih-milih baju.
”Liat ituh, ngumpul kek gitu rame banget. Ngalangin jalan. Ngeberantakin barang lagi” dia ngomel lagi ke sesama mbak penjaga disebelahnya sambil menunjuk ke kerumunan di etalase sepatu anak. Ooh, ngomelin orang-orang itu toh. Mbak yang satunya Cuma senyum-senyum ikhlas.
”Dasar, dipikirnya disini pasar tradisional apa!”
WAW. Sampe sini saya langsung kaget beneran.
Okey, dia mungkin lagi capek ya. Saya bisa terima itu secara pembeli di mall itu berjubel naudzubillah, bakal pusing ngeliatnya. Atau dia lagi nggak sehat jadi rada sensitif gitu, well ini juga masih bisa diterima ya. Tapi sampai dia ngomel-ngomel gitu?didepan pembeli yang lain. And please note sodara-sodara, dia ngomel ituh sambil melototin marah ke kerumunan gitu dan nggrundel lumayan nyaring. Saya yang ada pas didepan dia jadi nggak enak hati deh. Secara saya jg ngebuka-buka lipatan bajunya. Walaupun habis dibuka saya lipat lagi, denger omelan si mbak saya jadi rada ilfil deh.
Tanpa bermaksud menggurui, serving customer harusnya nggak begitu ya. Kalaupun sudah suntuk bin bete tak tertahankan, pergilah sebentar ke toilet mungkin. Tenangkan pikiran. Be profesional. Dan kalopun ternyata emang pelanggannya yang nyebelin, instead of pointless ngrundel kek gitu kenapa nggak langsung ambil tindakan ya. Mungkin ngedeketin si customer, tanya mau yang mana, yg gimana biar mereka nggak lanjut ngehancurin etalase yang sudah diatur. Tapi yaah, mungkin si mbak sudah terlalu emosi jiwa. Dan kerumunan pembeli itu sudah terlalu kalap rebutan sepatu. Jadi, ya sudahlah…lebih baik saya dan ibu menjauh segera dari boks dan mbak yang lagi terbakar marah.

Nyampah : Sebelum tidur

Dalam waktu bersamaan bukan nggak mungkin kita tertawa dan menangis sekaligus. Sedih tapi bahagia. Meragu tapi yakin. Membenci tapi juga suka. Melupakan tapi masih mengingat beberapa. Mengharap tapi menolak. Mendekati tetapi malah menjauh. Menyesali tapi bersyukur. Mendendam tapi juga mengikhlaskan. Mendoakan tapi kadang mengutuk. Menyalahkan tapi membela. Maju ke depan tapi masih melihat ke belakang.

Have made this far. Have been through that phases so many times. Even counting them now seems doesn’t make sense at all. Pain you’ve been through only will makes you stronger. But forgiving yourself is the key to almost everything.

Be positive. Chayo!