Pakde…missing you so dearest bestfriend

Sepertinya masih baru kemarin saya bertemu dia. Perawakannya nggak terlalu tinggi, kulitnya agak gelap, dan yang paling saya inget….pipinya yang chubby sekali dan sorot matanya yang kadang kok kek berbinar-binar ala anak TK (hehehe sepertinya belum sempat ngomong kek gini kek kamu ya Pakde). Ronny Iswanto. Dari awal sudah keliatan emang ya klo nih anak ramah dan helpfull. Khas helpdesk IT yang baek mungkin ya hehehe. Saya yang memulai memanggil dia Pakde. Pakde ini tergabung dalam komplotan yang sengaja dikirim untuk back up dan preparing migrasi sistem di kantor lama. Dari empat orang di komplotan itu, entah kenapa ada dua orang yang paling noticeable. Tepatnya paling klik sama saya. yaa si Pakde dan ada lagi satu, si Master. Dua julukan yang entah gimana diberikan ke masing-masing mereka, dan akhirnya berkembang jadi panggilan sehari-hari. Mereka sendiri juga dengan cepat mengembangkan panggilan balasan buat saya. Pakde balas memanggil saya Bude, dan Master balas memanggil saya Suhu. Dari komplotan IT empat orang itu, dua orang terakhir jadinya malah ngebentuk kelompok sendiri dengan gerombolan saya yang berisi Si Panda dan Si Murid. Dua nama terakhir juga nama panggilan yang dengan apesnya jadi nama sehari-hari. Naah, empat orang ini (si murid, master, pakde dan saya, si bude alias suhu) yang paling getol imel-imelan setiap harinya. Dalam perkembangannya (ciyeeh bahasanyaa) kami berkembang jadi kumpulan Gendengers. Namanya kek gitu soalnya yang dibahas dan yang membahas nggak jauh-jauh dari hal dan hil berbau gendeng hekekekkeke. Asli dah, kami ini supeerrr kreatif soro. Adaaa aja yang dibahas. Gilanya pernah dalam satu hari sebelum pulang kami semua iseng menghitung jumlah imel yang masuk. Ada ratusan lebih!dan itu dalam satu hari kerja saja lo sodara-sodara!!!saya lupa jumlah tepatnya. Tapi serangan imel itu, yang walopun kadang bisa ngalahin serangan spam (ato emg termasuk spam ya imel kelian ini?hahaha) selalu membuat saya lepas tertawa…ehm…ngakak gila tepatnya. Mau ratusan mau puluhan, imel-imel dari mereka itu selalu jadi semacam obat bius. Nagih. Bisa ngilangin stress setidaknya sementara saja ditengah gencetan deadline kerja yang kadang kek memakan semua urat bahagia di kepala. Bertemu dengan mereka bertiga, rasanya sungguh berkah. Jarang-jarang lo ya kamu bisa aja gitu suatu hari ketemu beberapa orang baru dan tiba-tiba “klik”…nyambung aja kek tutup botol ketemu botolnya. Sahabat kebanyakan muncul karena proses seberapa lama mereka berteman. Tapi yang ini beda. Mereka adalah salah satu dari beberapa sahabat langka saya. Karena saya sudah ngerasa mereka sahabat tanpa butuh waktu yang lama. Mungkin karena kami sangat sering curhat berjamaah. Semacam buka forum via email dan ngeluarin unek-unek stress di kepala. Yang ga lama pasti diikutin anggota yang lain dan pastinyaa ditimpalin ala gendengers oleh anggota lainnya. Jadi dah curhat massal. Mungkin karena sering berbagi kami jadi lebih gampang menemukan kecocokan satu sama lain. Seperti ada ikatan kasat mata gitu hihihi lebay ah. But it is true, being with you all guys really one of time of my life. Itulah kekuatan sahabat ya, mo hari berat gila seperti apa…feels that you have a bunch of craziest supportive bestfriend will always managed to get you back on top.

Dan kemudian takdir kami mulai berjalan. Diawali dengan Pakde yang walaupun nggak pindah induk tapi progressnya mulai terlihat. Pakde orang pertama di komplotan Gendengers yang diangkat jadi karyawan tetap di perusahaan lama saya (waktu itu kami berempat masih berstatus karyawan outsource klo nggak salah). Nggak lama, saya yang meninggalkan mereka, pindah induk ganti perusahaan. Hari terakhir perpisahan dengan kelompok gila ini berat sekali. Rasanya ada palu godam raksasa menghantam hati. “BUUMMM”. Ngilu-ngilu sedih rasanya. Biarpun masih bisa connect each other through external mail, tapi tetep aja rasanya sediiih sekali harus terpisah dari mereka. Dan serangan email gila-gilaan itu berkurang drastis. Jujur, rasanya sangat kehilangan sekali di awal-awalnya. Seperti jadi bego, karena kadang nggak sadar saya bolak-balik ngecek imel kantor lama (yang mana udah keblok pastinya) karena masih nungguin email dari mereka. Lama-lama saya mulai biasa dan beradaptasi dengan kantor baru, menemukan gerombolan gila lainnya. Tapi tetep aja, komplotan gendengers membekas sekali di dalam.

Sampai suatu hari di tengah kesibukan saya jadi karyawan baru, si murid, salah satu anggota Gendengers menelepon saya. Saya terpekik saking senang dan kangennya. Belum sempat dia ngomong saya sudah ngoceh panjang lebar. Dan tiba-tiba dia memotong cepat omongan saya sambil terisak “Suhu sudah dengar?Pakde nggak ada suhu. Pakde nggak ada”. Saya diam. Bingung. Ragu, saya tanyakan maksudnya apa. Dengan bloonnya bertanya emang si Pakde kemana. Si murid menceritakan dengan cepat sambil menangis kronologis kejadian hari naas itu. Hari dimana salah satu sahabat terbaik saya serasa direbut paksa dari saya oleh tangan takdir. Saya masih bingung. Semua penjelasan dan isak tangis Murid rasanya muter-muter doang di kepala. Sampe kemudian nggak sadar mata saya basah. Otak saya pelan-pelan bekerja. Dan inti berita itu mulai saya mengerti. Murid terus saja bicara di telepon. Tapi telinga saya sudah putus koneksi dengan kepala. Rasanya lumpuh sesaat dan kamu nggak bisa ngapain-ngapain kecuali nangis. Sejak Bapak nggak ada, saya jadi lebih sensitif setiap menerima berita duka. Terlebih lagi ini sahabat saya sendiri. Seperti kembali lagi ke hari itu dimana saya kehilangan Bapak. Padahal baru beberapa minggu lalu saya chat dengan pakde. Haha-hihi ngakak gila dengan dia. Bahkan Master baruuu saja kemarinnya ngobrol dengan Pakde via telp ato chat klo nggak salah. Saat kejadian itu Pakde sudah dipindahkan ke Makassar, kejadian itu sendiri terjadi di Makassar. Bayangkan, bagaimana kaget dan tidak percayanya kami. Mendadak. Tiba-tiba dia pergi meninggalkan lubang di hati. Yang lebih sedih lagi, waktu itu Pakde baru saja menikah. Newlywed. Istri barunya juga diboyong ke Makasar. Dan saat itu sedang hamil. Pakde yang akan pergi kerja pamit seperti biasa. Siapa yang ngira Pakde pamit pergi nggak kembali. Duh, bahkan nulis ini pun nggak sadar mata saya basah *mewek*

Dan hari ini lagi, lubang besar itu seperti muncul samar di hati. Istri pakde melahirkan putri mereka dengan selamat. Senang sekali rasanya setidaknya pakde sempat punya keturunan tanda cinta dengan istrinya. Tapi membayangkan si kecil itu bakal tumbuh tanpa sempat melihat gimana lucu, baik dan konyolnya Bapaknya…..saya nggak tahan. Saya yang udah segede ini saja waktu kehilangan Bapak seperti berhenti hidup rasanya. Seperti zombi kadang. Hidup tapi mati. Membayangkan anaknya Pakde bakal tumbuh tanpa bisa melihat dan merasakah cinta besar seorang bapak…….bisa bayangkan gimana sedihnya?saya nggak bisa. Saya nggak tahan. Bahkan saya sendiri nggak tau kuat nggak saya klo di posisi istrinya pakde *mewek lagi*

Ingin sekali rasanya menjenguk si kecil Pakde yunior. Rasanya saya ingin ikut menjaga. Karena Pakde salah satu sahabat terbaik saya. Nggak tega dan nggak pengen Pakde yunior kekurangan kasih sayang. Walaupun nggak bisa menggantikan tapi setidaknya saya dan anggota gendengers lain bisa membantu istri pakde menambal lubang kasih sayang untuk si kecil. Tapi saya terlalu jauh dari mereka. Beda pulau. Belum bisa cuti untuk mengunjungi mereka. Semoga dimudahkan jalan untuk kami membantu istri Pakde untuk menjaga si kecil. Saya yakin Pakde juga selalu menjaga anak kesayangannya yang belum sempat dia lihat.

Advertisements

About easyellow
yellow maniac girl who loves reading, brainstorming, dreaming,and blogging for sure.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: