Nothing

I think nothing. I do nothing. I stayed in flawless quiteness. My mind soaring up high above wildly. But i think nothing. And still do nothing. There’s a plenty of ideas and thought flies in my head. They buzzing like they are such a predator ready to eat every happy memory in me. Drained me until I realized, I’ve got everything until you let that buzz letting you down.
I think nothing……..
I do nothing……………
But still, i (tried to) kept everything inside……

Advertisements

Pakde…missing you so dearest bestfriend

Sepertinya masih baru kemarin saya bertemu dia. Perawakannya nggak terlalu tinggi, kulitnya agak gelap, dan yang paling saya inget….pipinya yang chubby sekali dan sorot matanya yang kadang kok kek berbinar-binar ala anak TK (hehehe sepertinya belum sempat ngomong kek gini kek kamu ya Pakde). Ronny Iswanto. Dari awal sudah keliatan emang ya klo nih anak ramah dan helpfull. Khas helpdesk IT yang baek mungkin ya hehehe. Saya yang memulai memanggil dia Pakde. Pakde ini tergabung dalam komplotan yang sengaja dikirim untuk back up dan preparing migrasi sistem di kantor lama. Dari empat orang di komplotan itu, entah kenapa ada dua orang yang paling noticeable. Tepatnya paling klik sama saya. yaa si Pakde dan ada lagi satu, si Master. Dua julukan yang entah gimana diberikan ke masing-masing mereka, dan akhirnya berkembang jadi panggilan sehari-hari. Mereka sendiri juga dengan cepat mengembangkan panggilan balasan buat saya. Pakde balas memanggil saya Bude, dan Master balas memanggil saya Suhu. Dari komplotan IT empat orang itu, dua orang terakhir jadinya malah ngebentuk kelompok sendiri dengan gerombolan saya yang berisi Si Panda dan Si Murid. Dua nama terakhir juga nama panggilan yang dengan apesnya jadi nama sehari-hari. Naah, empat orang ini (si murid, master, pakde dan saya, si bude alias suhu) yang paling getol imel-imelan setiap harinya. Dalam perkembangannya (ciyeeh bahasanyaa) kami berkembang jadi kumpulan Gendengers. Namanya kek gitu soalnya yang dibahas dan yang membahas nggak jauh-jauh dari hal dan hil berbau gendeng hekekekkeke. Asli dah, kami ini supeerrr kreatif soro. Adaaa aja yang dibahas. Gilanya pernah dalam satu hari sebelum pulang kami semua iseng menghitung jumlah imel yang masuk. Ada ratusan lebih!dan itu dalam satu hari kerja saja lo sodara-sodara!!!saya lupa jumlah tepatnya. Tapi serangan imel itu, yang walopun kadang bisa ngalahin serangan spam (ato emg termasuk spam ya imel kelian ini?hahaha) selalu membuat saya lepas tertawa…ehm…ngakak gila tepatnya. Mau ratusan mau puluhan, imel-imel dari mereka itu selalu jadi semacam obat bius. Nagih. Bisa ngilangin stress setidaknya sementara saja ditengah gencetan deadline kerja yang kadang kek memakan semua urat bahagia di kepala. Bertemu dengan mereka bertiga, rasanya sungguh berkah. Jarang-jarang lo ya kamu bisa aja gitu suatu hari ketemu beberapa orang baru dan tiba-tiba “klik”…nyambung aja kek tutup botol ketemu botolnya. Sahabat kebanyakan muncul karena proses seberapa lama mereka berteman. Tapi yang ini beda. Mereka adalah salah satu dari beberapa sahabat langka saya. Karena saya sudah ngerasa mereka sahabat tanpa butuh waktu yang lama. Mungkin karena kami sangat sering curhat berjamaah. Semacam buka forum via email dan ngeluarin unek-unek stress di kepala. Yang ga lama pasti diikutin anggota yang lain dan pastinyaa ditimpalin ala gendengers oleh anggota lainnya. Jadi dah curhat massal. Mungkin karena sering berbagi kami jadi lebih gampang menemukan kecocokan satu sama lain. Seperti ada ikatan kasat mata gitu hihihi lebay ah. But it is true, being with you all guys really one of time of my life. Itulah kekuatan sahabat ya, mo hari berat gila seperti apa…feels that you have a bunch of craziest supportive bestfriend will always managed to get you back on top.

Dan kemudian takdir kami mulai berjalan. Diawali dengan Pakde yang walaupun nggak pindah induk tapi progressnya mulai terlihat. Pakde orang pertama di komplotan Gendengers yang diangkat jadi karyawan tetap di perusahaan lama saya (waktu itu kami berempat masih berstatus karyawan outsource klo nggak salah). Nggak lama, saya yang meninggalkan mereka, pindah induk ganti perusahaan. Hari terakhir perpisahan dengan kelompok gila ini berat sekali. Rasanya ada palu godam raksasa menghantam hati. “BUUMMM”. Ngilu-ngilu sedih rasanya. Biarpun masih bisa connect each other through external mail, tapi tetep aja rasanya sediiih sekali harus terpisah dari mereka. Dan serangan email gila-gilaan itu berkurang drastis. Jujur, rasanya sangat kehilangan sekali di awal-awalnya. Seperti jadi bego, karena kadang nggak sadar saya bolak-balik ngecek imel kantor lama (yang mana udah keblok pastinya) karena masih nungguin email dari mereka. Lama-lama saya mulai biasa dan beradaptasi dengan kantor baru, menemukan gerombolan gila lainnya. Tapi tetep aja, komplotan gendengers membekas sekali di dalam.

Sampai suatu hari di tengah kesibukan saya jadi karyawan baru, si murid, salah satu anggota Gendengers menelepon saya. Saya terpekik saking senang dan kangennya. Belum sempat dia ngomong saya sudah ngoceh panjang lebar. Dan tiba-tiba dia memotong cepat omongan saya sambil terisak “Suhu sudah dengar?Pakde nggak ada suhu. Pakde nggak ada”. Saya diam. Bingung. Ragu, saya tanyakan maksudnya apa. Dengan bloonnya bertanya emang si Pakde kemana. Si murid menceritakan dengan cepat sambil menangis kronologis kejadian hari naas itu. Hari dimana salah satu sahabat terbaik saya serasa direbut paksa dari saya oleh tangan takdir. Saya masih bingung. Semua penjelasan dan isak tangis Murid rasanya muter-muter doang di kepala. Sampe kemudian nggak sadar mata saya basah. Otak saya pelan-pelan bekerja. Dan inti berita itu mulai saya mengerti. Murid terus saja bicara di telepon. Tapi telinga saya sudah putus koneksi dengan kepala. Rasanya lumpuh sesaat dan kamu nggak bisa ngapain-ngapain kecuali nangis. Sejak Bapak nggak ada, saya jadi lebih sensitif setiap menerima berita duka. Terlebih lagi ini sahabat saya sendiri. Seperti kembali lagi ke hari itu dimana saya kehilangan Bapak. Padahal baru beberapa minggu lalu saya chat dengan pakde. Haha-hihi ngakak gila dengan dia. Bahkan Master baruuu saja kemarinnya ngobrol dengan Pakde via telp ato chat klo nggak salah. Saat kejadian itu Pakde sudah dipindahkan ke Makassar, kejadian itu sendiri terjadi di Makassar. Bayangkan, bagaimana kaget dan tidak percayanya kami. Mendadak. Tiba-tiba dia pergi meninggalkan lubang di hati. Yang lebih sedih lagi, waktu itu Pakde baru saja menikah. Newlywed. Istri barunya juga diboyong ke Makasar. Dan saat itu sedang hamil. Pakde yang akan pergi kerja pamit seperti biasa. Siapa yang ngira Pakde pamit pergi nggak kembali. Duh, bahkan nulis ini pun nggak sadar mata saya basah *mewek*

Dan hari ini lagi, lubang besar itu seperti muncul samar di hati. Istri pakde melahirkan putri mereka dengan selamat. Senang sekali rasanya setidaknya pakde sempat punya keturunan tanda cinta dengan istrinya. Tapi membayangkan si kecil itu bakal tumbuh tanpa sempat melihat gimana lucu, baik dan konyolnya Bapaknya…..saya nggak tahan. Saya yang udah segede ini saja waktu kehilangan Bapak seperti berhenti hidup rasanya. Seperti zombi kadang. Hidup tapi mati. Membayangkan anaknya Pakde bakal tumbuh tanpa bisa melihat dan merasakah cinta besar seorang bapak…….bisa bayangkan gimana sedihnya?saya nggak bisa. Saya nggak tahan. Bahkan saya sendiri nggak tau kuat nggak saya klo di posisi istrinya pakde *mewek lagi*

Ingin sekali rasanya menjenguk si kecil Pakde yunior. Rasanya saya ingin ikut menjaga. Karena Pakde salah satu sahabat terbaik saya. Nggak tega dan nggak pengen Pakde yunior kekurangan kasih sayang. Walaupun nggak bisa menggantikan tapi setidaknya saya dan anggota gendengers lain bisa membantu istri pakde menambal lubang kasih sayang untuk si kecil. Tapi saya terlalu jauh dari mereka. Beda pulau. Belum bisa cuti untuk mengunjungi mereka. Semoga dimudahkan jalan untuk kami membantu istri Pakde untuk menjaga si kecil. Saya yakin Pakde juga selalu menjaga anak kesayangannya yang belum sempat dia lihat.

Kenapa Jarang Ngeblog?

Kemarau. Mungkin kalo aliran posting saya diibaratkan hujan, blog saya lagi kemarau panjang. Terakhir posting sekitar sebulan lalu. Lumayan kering kerontang kalo diliat-liat inih blog, parah dah *Nah lo, salah siapa dong?*

Terus kenapa dong jarang ngeblog?Seperti kata orang, selalu ada seribu satu alesan buat ngeles dan susah banget nemuin satuu aja alesan untuk kembali ke jalan yang benar. Terlalu banyak mah alesan kenapa saya nggak mulai ngeblog lagi. Padahal ide untuk ditulis itu beterbangan liar di kepala. Tapi menangkap satuu aja dari banyak ide itu untuk kemudian dieksekusi diatas kertas *err..di wordpress tepatnya* rasanya syusaaah bener. Malas?iya mungkin aja. Soalnya ide itu kerap bersliweran di saat ga tepat. Waktu lagi nyetir, waktu lagi cuci piring, waktu lagi kondangan daan sebagainya sebagainya. Dulu, gampang banget rasanya menceritakan kembali ulang sesuatu hal dalam urutan yang bagus. Sekarang?beh, entah nyawa saya yang kadang belum jangkep atau gimana…tapi kalau dipaksakan menulis kembali ide yang barusan sliweran itu pastinya jadinya malah nggak jelas urutannya. Dan ujung-ujungnya menumpuklah si draft posting yang nggak selesai bin terbengkalai. Dan saya nggak bisa asal menulis di blog cuma demi agar keliatan eksis. Tiap orang pasti berbeda, tapi buat saya menulis itu seperti menumpahkan kekusutan dikepala untuk diurai rapi. Makanya begitu saya dapet moment menulis yang pas banget, setelahnya pasti berasa legaa :D.

Alesan berikutnya adalah masalah topik. Nggak tau ya, kok sekarang otak ini berasa cupet gitu. Rasanya otak saya yang ngurusin bagian hepi-hepi-gila-kreatif lagi cuti liburan kemanaa gitu. Apesnya bagian otak itu sepertinya keterusan cuti, nggak balik-balik lagi. Some people said, your life will changed when you’d been through so many dark phase. And when your life changed…you’ll gonna changed. I personally, ngerasa semua dark phase yang pernah kejadian di hidup saya bener-bener meant to be happened on me. Jalan saya emang dibuat gitu. Tau nggak feeling yang seperti itu?seperti waktu kamu nggak tahan dan akhirnya menangis karena sedih…kamu sedih sekali saat itu, tapi dalam hati kamu tau ini yang akan ngebentuk dirimu jadi lebih kuat. Jadi lebih baik. Since i lost my dearest daddy, i often felt i lost myself nowhere. Rasanya seperti kehilangan arah sesaat. Gelap. Dan sendirian. Kalau diingat lagi, rasanya sejak itu perubahan hidup dimulai. Nggak signifikan, tapi pelan-pelan saya berubah. Seperti proses pembuatan tembikar, tanah lempungnya harus dibanting-banting dulu, dipenyok-penyokin demi ngedapet bentuk yang perfect. Kalaupun udah lumayan bentuknya masih harus dibakar lagi. Proses hidup saya, rasanya kurang lebih seperti itu. Apa?saya lempung?hahaha masa ada siih ciin lempung ngeblog gini ;D

Alesan lain saya enggan ngeblog adalah saya (entah kenapa) nggak bisa lagi menulis bebas seperti dulu. Terlalu banyak pertimbangan rasanya. Nggak mau menyakiti si ini, nggak mau mendiskreditkan si itu. Kalo dulu mah, mau nulis ya nulis aja. Nggak pernah kepikiran macem-macem karena memang nggak nyampe situ mikirnya hahaha. Masih muda belia nan polos sih. Eh tapi saya tetep rajin nulis lo. Cuma nggak dipublish aja.Ya karena alesan terakhir itu.
Daan, sebagai orang yang selalu (berusaha) berpikir positif saya mau aktif ngeblog lagi ah. Pokoknya kalo bisa tiap hari satu posting dah minimal. Nyahahaha, niatnya mulia gini ey. Mari kita liat realisasinya ntar. Ayoo rajin ngeblog! 😀

Terapi I : Menulis

Masa-masa terindah nulis itu, saya inget banget, adalah waktu saya ngabisin waktu liburan ngerjain skripsi di Balikapapan. Jadi biasa saya start ngerjain skripsi dari pagi. Ya ga pagi-pagi bgt sih, pokoknya sebangunnya saya lah hihi raja bangun siang inih jg. Seharian terus-terusan di depan pc buat ngerjain segala macem printilan skripsi. Keram tangan, capek ngetik. Keram otak, capek mikirnya. Kalo udah sorean gitu, biasanya Ibu saya naik keatas ngebawain Milo anget. Duuh, surga bener emang tinggal di rumah sendiri tu ya. Trus agak malem, abis magrib gitu giliran Bapak saya yang nyamperin. Nyeret kursi biru di depan meja belajar sampe bunyi “kreeekkk” buat duduk santai sambil ngeliatin saya yg ribet sendiri. Waktu itu beliau masih cukup sehat untuk sekedar duduk dan ngoblor (seringnya debat) ngalor ngidul ga jelas. Rutinitas seperti itu sekarang terasa surga banget. Mungkin yg buat itu kerasa lebih surga karena waktu itu saya bisa ketemu sama Bapak, ngobrol langsung, debat sampe ngotot, diskusi, cekikikan bareng sampe Ibu sirik. Semua-mua itu bisa saya lakuin dengan bebas tanpa batas karena Bapak masih ada. Ah, crap. Jadi mellow lagi saya.

Lanjut lagi, biasanya kelar debat singkat Bapak lanjut nonton tivi di ruang keluarga bawah. Saya?ya teteub ya bo’ di jalur yg benar ngadepin pc sampe muka kek monitor. Terusan kek gitu sampe subuh. Nah posisi pc saya kan tepat di belakang jendela, jadi saya bisa liat sunrise tiap hari (secara tiap hari begadang). Ide menulis yang brilian dan bener-bener speak up my mind itu biasanya datang sekitaran sunrise. Kelar saya solat subuh gitu dah. Tercerahkan air wudhu kali ya?jadi rada pinteran dikit hehehe. Nggak tau kenapa ya, aktivitas ngetik-ngetik sambil ngeliat sunrise diiringi kokok ayam jantan dan segelas milo…duh saya kangen banget sama moment itu. Apalagi kalo malemnya saya berhasil nyelesein satu bagian utama di program skripsi saya. Duuh, bahagia banget-nget.

Sekarang ini, saya sering mencari-cari, mengusahakan supaya momen itu terulang lagi. Ada semacam kenikmatan yang nyandu waktu saya bisa menulis jujur dari jiwa. Lepas dari dipublish ato enggaknya tulisan itu, rasanya seperti berhasil mencungkil keluar bongkahan uneg-uneg dari dalam kepala. Mungkin buat saya menulis itu terapi ya?terapi yang sudah terlalu lama terlupakan. Terapi yang saya lagi sibuk nyari jalan untuk kembali. Semoga saya cepetan ketemu lagi jalannya. Doain yaa! 😀

Kembali (lagi)!!

Akhirnya setelah sekiaann lamaaa…..niatan untuk posting kembali lagi. Wew, udah kelewat hampir setengah tahun!!Setengah tahun tanpa posting sama sekali. Dan hebatnya lagi (eerr..biasa aja sih sebenernya) saya nggak pernah menulis SAMA SEKALI. Dulu, biarpun nggak nge-blog tapi at least ada beberapa coretan ato tulisan pendek yang kesebar di beberapa file.
Apa yang kelewat ga diposting selama hampir setengah tahun?Beuh…buanyaakk soro. Tapi ada beberapa hal penting yang (hampir) saya tulis. Untuk penebusan dosa, here’s some quick recap nya deh :
1. Pindah kerja! Setelah hampir 2 tahunan ngantor di tempat yang sama (kalo nggak salah ye, lupa ey hahah), I managed to get a new one. Alhamdulilaah…alhamdulilah bgt dapet kerjaan baru dengan *uhuk-uhuk* peningkatan yang alhamdulilah, dapet temen baru yang alhamdulilah (lagi) sama gilanya hahaha waw..waw..menyenangkan! juga dapet banyak pengalaman baru disini. Cuma lucunya, dulu jaman sma padahal sini mah paling anti akuntansi ya, mending ngerjain kimia ato biologi sekalian. Nah lo sekarang diceburin dimari…yuukk makan ituh cik buku akuntansi huekekeke. Kerjaannya mah nggak seberat dan se-rodi yang kemaren, instead lumayan nyantai bo’ disini. Ato kali karena di kerjaan yg dulu udah biasa hectic ya?jadi pas yang disini dapet yang ga terlalu hectic malah berasa nyantai *cuiih gayaa hahaha*. Yang jelas kerjaan baru, target baru, semangat baru…semoga terus baru semangatnya ya, aamiinn.

2. Aaah….not to mention also pindah kota. Kerjaan baru ini saya ditempatin di luar kota dengan jarak tempuh at least 3 jam via darat dari kota asal tercinta. Yang mana saya nggak boleh nggak bersyukur (walo miris juga harus pindah kota). Secara saya masih lebih beruntung dari temen-temen seangkatan lain yang kelempar sampe keujung Kalimantan. Salut sama survival process mereka disana. Btw, tentang kerjaan disini..sebenernya fun kok, if only…that damn motion sickness cured. Iyaa..udah hampir setaun bolak-balik samarinda ke balikpapan dan sebaliknya, eeh masih aja mabok-mabokan gitu sini tiap pulang ke Balikpapan. Kek sekarang nih baru balik dari Samarinda, dan ini ngepost-nya juga sambil keliyengan. Mabok?lagi? yaa jelaass. Entah faktor lagi nggak fit, sopirnya yang pengikut fanatik aliran Too Fast Too Furious-isme, ato bau-bauan ga jelas dari penumpang laen. Pokoknya napsu muntah jadi tinggi klo udah di kendaraan roda empat yang bergerak. Awal-awal pindah masih sering homesick. Mbok-mbok’an. Sering kangen dan tiba-tiba cemas sama Ibu yang di Balikpapan. Apalagi kalo malem-malem terus ujan, duh..ga tega ninggalin beliau sendirian. Untungnya Ibu tipe metal-baja, malah lebih kuat keknya daripada sini ihihihi jadi maluuw. Tapi dengan karakter Ibu yang kek gitu malah jadi lebih agak tenang, dan untung triple untung, tetangga sekitaran rumah itu sangat helpfull dan baek ati..udah pada kek sodara sendiri. Jadiii..lumayan amaann, alhamdulilah 🙂

3. Loosing one of my bestfriend forever. Our dearest beloved Roni Siswantoro. Nggak nyangka secepat itu kamu harus pergi sahabat. Seperti ditusuk belati rasanya waktu denger kamu tiba-tiba pergi. Even till now I still can’t bear, can’t believe you already gone. I’ll dedicated one posting for you Pakde. Soon. May you rest in peace dearest Pakde. We all love you…and we always miss you.

4. Trial and error. And done it so many times lately. Pindah tempat tinggal, nyobain kos baru, kenalan dengan banyak orang baru, dapet sahabat baru and trying to step into a new relationship which is unfortunately not lasting that long. Found out later we are better remain as a friend. Yah rasanya semua trial and error ini bagus buat perkembangan janin saya *eehh?apa-apaan?!*, bagus buat pendewasaan diri. Saya jadi bisa lebih mengenal diri saya sendiri, dan tahu mana yang baik mana dan mana yang enggak buat hidup saya.

Yah, gitu deh garis besar nya. Sebenernya masih banyak yang kejadian tapi keknya bakal dipost later ya. Sekarang yuk tidur yuukk…udah maleemm, ikan boboo *ngiklaann*. Nite-nite all! ^o^

Wondering why some people seems enjoying…

Wondering why some people seems enjoying in hurting others?Keknya situ hepi benerr ngeliat orang lain menderita ya. Cobaaa deh, kapan-kapan itu mulut disekolahin dulu supaya nggak ngeganggu mahkluk hidup lainnya. *ikutan emosi jiwa*

…still miss you, Bapak

Bapak, apa kabarnya disana?376 hari yang lalu dan sepertinya masih baru kemarin Bapak pergi. Berkali-kali belajar menguatkan diri dan berkali-kali gagal. Selalu hancur lagi setiap teringat hari-hari terakhir bareng Bapak *seandainya bisa diulang…*. Selalu belajar untuk kembali kuat setiap ingat Ibu, kenangan manis-kocak kita sekeluarga, dan semua pesan-ajaran-Sabda-Pandhita yang seperti diputar ulang di kepala.

Kemarin ade mimpi Bapak. Disitu tiba-tiba Bapak kembali ke rumah dan memeluk ade, mbak dan Ibu yang baru selesai sholat. Bapak kelihatan gemukan. Di mimpi ade Bapak bilang, Bapak bisa kembali hidup karena Allah mengjinkan. Karena, alhamdulilah, semua doa ade, mbak dan Ibu didengar. Saking kagetnya di mimpi itu ade pingsan. Terus Bapak menyentuhkan tasbih ke kening ade buat ngebangunin ade dari pingsan. Berhasil. Ade bangun dan langsung mememeluk Bapak. Rasanya senaang banget. Sampai adzan subuh membangunkan ade. Malah jadi sedih setelah itu.
Kata orang, nggak baik bersedih mengingat orang yang kita sayangi sudah pergi menghadap Allah. Kasian almarhum Bapak, jalannya disana nggak tenang karena terus mendengar tangisan sedih keluarganya. Tapi mau gimana lagi pak, sedihnya kadang nggak tertahankan. Kangennya terlalu berat. Meskipun berkali-kali gagal, ade pasti terus berusaha untuk kuat lagi setiap gagal. Dan setiap gagal lagi….ade pasti berusaha lagi untuk kembali kuat. Masih ada Ibu yang harus ade jaga. Bapak tenang saja disana. Biarpun ade belum nemu caranya untuk kuat sepenuhnya, pasti ada jalannya. Miss you so dad..