Review Insomnia

Rasanya kalo dipikir-pikir banyak juga yang kejadian selama setahun belakang ya. Telat sih kalo mo direkap sekarang secara taun baru udah lewat berapa bulan lalu dan resolusi juga udah expired sekali kalo baru dibuat sekarang. Ini cuma dorongan tiba-tiba untuk review sekilas. Iya review, itu nama yg lebih tepat. Its amazing to looking back for a while and found how you can make it through this far. Facing all of miserables and keep standing on my own with dignity (this related to some cases ya). Beruntung sekali dikelilingi keluarga dan teman yang siap back up kapanpun butuh. Oia, kalo kamu sembari baca ini mikir, si dessy kesambet ato gimana kenapa aneh gini postingannya…hehe no worry fella, i ask that same question too. Let’s just say, wangsit gara-gara insomnia. Kembali ke ide awal, sebenernya dalam hidup bahagia itu tergantung cara pandang kita. Hidup saya, kalo diliatnya miris bisa jadi keliatan sedih dan burem. Tapi kalo diliat penuh semangat dan optimisme…ya tentu cemerlang gemilang hehe. Akhir-akhir ini ada beberapa saat saya ngerasa hidup itu burem banget. Madesu sekali. Cuma karena satu-dua hal kecil bin sepele yang seakan-akan air buat api semangat saya. Semua harapan dan cita-cita itu ya seperti lenyap. Sepertinya hidup nggak akan kemana-mana. Cuma berjalan ditempat aja. Nggak akan ada kesempatan, nggak akan bisa ngedapetin kesempatan. Dan..disini untungnya saya udah tamat baca Harry Potter hahaaha. Ada tuh kan mantra pelindung buat ngelawan Death Eater, klo punya ibunya harry rusa betina tuh..apa ya namanya. Yah pokoknya itulah maksudnya. Si Harry kan ngebuat mantra itu dengan ngebayangin yg indah-indah, memori yang buat dia senang. Naah, cara itu juga yang saya pake kalo udah mulai kehasut syaiton untuk tenggelam di pola pikir negatif. Tapi agak susah juga sih. Terutama kalau teringat mendiang Bapak. Rasa kehilangan yang entah mungkin karena terlalu dalam, jadinya malah setiap sedih jadi mati rasa. Sedih yang sedih sekali..sampai nggak terasa sedih lagi. Dulu waktu Bapak dimakamkan, tangis saya nggak parah. Hanya setitik dua titik. Karena rasanya memang nggak bisa lagi menangis. Percuma ditangisi, Bapak nggak kembali. Dan saya nggak mikirin hari itu, hari dimana Bapak pergi damai. Saya malah ruwet sendiri mikir gimana kedepannya nanti tanpa Bapak. Apa yang harus dilakukan, bayangan kondisi setelah beliau nggak ada. Karena yang paling berat dari perpisahan bukanlah perpisahan itu sendiri, tapi hari-hari setelah saling berpisah. Ibu juga begitu. Beliau malah cuma menangis sejadi-jadinya waktu di RS. Mulai saat itu sampai sekarang, saya hampir nggak pernah liat beliau menangisi kepergian Bapak. Sama seperti saya, beliau bilang kehilangan itu terlalu dalam sampai nggak terasa hilang..cuma rasanya aneh aja gitu hidup. Sampai beberapa bulan setelah kepergian Bapak, rasanya nggak bisa tertawa lepas. Ada yang tertahan dalam hati. Setidaknya gitulah rasanya. Saya nggak masalah sama perasaan ini. Lebih cemas sama Ibu yang keliatannya nggak apa-apa. Selalu gitu sih, menguat-nguatkan diri sendiri. Padahal nggak apa kan kalo sekali-kali lemah. Toh anaknya udah pada gede, bisa menguatkan klo ibu butuh. Tapi ya kali emang bawaannya ibu emang gitu karakternya. Saya sendiri malah nggak tau harus gimana ngadepin karakter kek gini. Tapi semoga kami bisa selalu memandang hidup dari sisi cerah.

Advertisements

About easyellow
yellow maniac girl who loves reading, brainstorming, dreaming,and blogging for sure.

One Response to Review Insomnia

  1. AFDHAL says:

    tetap semangat 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: