100 Days After

Waktu sepertinya melintas sekejap mata sejak Bapak pergi. Malam ini semua seperti terputar lagi di kepala. Rentetan kejadian-kejadian di waktu terakhir kita masih bareng pak. Semua kenangan lucu, konyol, pahit dan manis…secara random menyerang kepala ade sejak kemarin. Entah mungkin melankolis pasca period, entah memang aku kangen Bapak. Mungkin opsi kedua yg lebih tepat ya.

Ga terasa udah 100 hari ade dan Ibu hidup tanpa Bapak lagi. Ngga ada lagi cerita masa lalu dari Bapak yg jadi pembangkit semangat ade, sandaran ade kalo lagi suntuk setengah gila, tempat berkeluh kesah yang ngga pernah lelah dan bosen mendengarkan segala jenis kategori curhat ade *walaupun Bapak sendiri sakit*, ngga bisa lagi ngobrol sama Bapak yang selalu jadi favorit semua anggota keluarga karena ketegasan dan kearifannya, Sabda Pandhita-ers yang paling kekeuh dan bijak yang pernah ade kenal.

Mungkin percuma bilang kek gini lagi. Tapi ade banggaaa bgt bisa punya daddy kek Bapak. Prinsip hidup, konsistensi dalam mengambil keputusan dan ngadepin konsekuensinya, keteguhan dan besarnya hati, Sabda Pandhita yang kekeuh dijalankan, bertanggung jawab, kasih sayang ke semua keluarga yang ga pernah berubah, kedewasaan, survivalitas dan semangat yang tinggi, kebijaksanaan, emotion control tingkat tinggi….and so many unsaid things. Semua yang sudah pernah Bapak ajarkan selama 24 tahun ini, sekuat mungkin akan ade jalankan dan terapin. I’ll try not to let you or mom down.

How I missing you so bad here dad. Kangen berat sama Bapak. Kehilangan terbesar untuk pertama kalinya dalam hidup ade, ga pernah nyangka harus kehilangan Bapak secepat ini. Iya sejak Bapak sakitnya tambah parah, memang Ibu berkali-kali mengingatkan ade supaya siap sama semua worst case yg mungkin akan kejadian. Supaya ade lebih siap. Tapi nyatanya ngga. Ade tetap berharap Bapak bisa kuat ngelewatin semuanya. Mengabaikan kenyataan bahwa walaupun semangat sembuh Bapak super tinggi, badan Bapak sudah susah diajak sembuh. Seandainya bisa diparuh nyawa to make you stay longer. Tapi itupun terasa sangat egois, dan ngga mungkin ade sanggup ngeliat Bapak nahan semua sakit Cuma demi agar kami ngga kehilangan Bapak. Jadi, saat akhirnya Bapak pergi…rasanya itu memang jalan terbaik yang dipilihkan Allah. Tenanglah disana ya pak. No worry about mom or me. I’ll try all my best to take care of her. Ngebahagian Ibu sebahagia-bahagianya yang ade bisa. Fyi, kita bakalan sering ngerumpiin Bapak hehe. Recalling all of those memories with you and share it together, especially when we missing you so.
Kangen…kangeen banget sama Bapak.

Advertisements

About easyellow
yellow maniac girl who loves reading, brainstorming, dreaming,and blogging for sure.

4 Responses to 100 Days After

  1. sucikeren says:

    saya terharu membacanya. semoga kamu dan ibu diberi ketabahan.

  2. easyellow says:

    @ Suci : Makasih doanya ya 🙂

  3. affandjojodiningrat says:

    tulisan yg bagus…

    salam,

    affan

  4. Aprina says:

    orang yg kuat adalah orang yang bisa berdiri dan bangkit setelah terpuruk.
    salam kenal juga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: